|
BERANDA MAYA
tak selalu apa yang kita inginkan itu yang terjadi, tapi mungkin sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan itu yang terjadi
Selasa, 02 Januari 2018
AKU PULANG
Rabu, 01 November 2017
Ayo Naik KRL ......!
newbi
Oke. Kita mulai. Datang ke stasiun yang dilalui KRL Jabodetabek. Lihat gambar rutenya bila perlu. Oh ya KRL tidak berhenti di stasiun Gambir ya baik menaikkan atau menurunkan penumpang. Kamu bisa beli tiket sekali jalan a.k.a Tiket Harian Berjaminan (THB) dengan uang jaminan Rp. 10.000 yang bisa diambil saat THB kamu kembalikan di stasiun akhir perjalananmu. Untuk kamu yang sering menggunakan KRL dalam perjalananmu coba pakai tiket terusan Kartu Multi Trip (KMT). Kamu tak perlu selalu antri beli tiket THB saat berangkat ataupun antri ambil uang jaminan setelah sampai. Harganya cuma Rp. 50.000 dengan saldo Rp. 30.000. THB ataupun tiket bisa dibeli di loket stasiun KRL. Bisa juga menggunakan kartu sejenis flazz, e money, atau tap cash. Tapi jangan lupa untuk aktifasi ya di stasiun.
Biaya naik KRL cukup murah, untuk 25 km pertama hanya Rp. 3000 dan untuk setiap 10 km berikutnya hanya menambah Rp. 1000. Tabel harga biasanya juga dipajang di stasiun.
Kalau kamu pakai THB cukup sebutkan stasiun tujuan kamu nanti petugas loket akan memberitahu berapa uang yang harus kamu bayar beserta jaminan kartu. Kalau pakai KMT, asal saldo kamu tidak kurang dari Rp. 13.000 kamu bisa langsung menggunakan KRL.
Dibeberapa stasiun sudah tidak ada loket manual, jadi kamu harus menggunakan vending machine untuk beli THB, isi KMT ataupun pengembalian tiket untuk mengambil uang jaminan.
Bingung menggunakan alat ini, tanya petugas yang standby disana. Lain waktu saja saya tulis tentang penggunaan commuterline vending machine.
Karena tiket sudah ditangan, silahkan masuk ke peron peron stasiun. Untuk masuk ke stasiun kamu harus melewati pintu elektronik. Silahkan tap tiketnya ke mesin pembacanya di pintu elektronik.kalau TAP IN gunakan tangan kiri dan kalau sudah sampai silahkan TAP OUT menggunakan tangan kanan. Dikarenakan pintu elektroniknya menggunakan model tripod. Sehingga kalau masuk, posisi mesin pembaca kartu ada di sebelah kiri sedangkan kalau keluar, posisi mesin pembaca kartu ada di sebelah kanan.
Didalam peron stasiun perhatikan informasi peron agar kamu paham dimana kamu harus menunggu untuk naik KRL sesuai tujuanmu. Kalau kamu bingung bisa tanya ke petugas stasiun. Atau perhatikan pengumuman dan papan digital di area peron stasiun.
Peta Rute KRL
Peta jaringan KRL JABODETABEK terbagi menjadi 6 jalur.
1. Jalur Hijau dengan rute Rangkas Bitung/Maja/Parungpanjang/Serpong sampai ke Tanah Abang pp
2 Jalur Coklat yang rutenya adalah Tangerang – Duri pp
3. Jalur Kuning dengan rute ada dua yaitu Bogor/Depok – Manggarai – Tanah Abang – Duri – Kampung Bandan – Jatinegara pp kemudian ada rute Nambo – Citayam – Manggarai – Tanah Abang – Duri – Kampung Bandan – Jatinegara pp
4. Jalur Merah yang rutenya Bogor/Depok – Manggarai – Jakarta Kota
5. Jalur Biru yang rutenya adalah Bekasi – Manggarai – Jakarta Kota. Tapi ada juga kereta di jalur ini yang rutenya Bekasi – Jatinegara – Pasar Senen – Kampung Bandan – Jakarta Kota. Pada Oktober 2017 rute ini diperpanjang dari stasiun Bekasi lanjut ke Bekasi Timur - Tambun - Cibitung dan Cikarang. Jadi jangan salah ada rute Jakarta Kota - Cikarang tapi ada juga yang cuma sampai Bekasi.
6. Jalur Pink yang rutenya adalah Jakarta Kota – Kampung Bandan – Ancol – Tanjung Priok pp
Dari semua jalur tersebut ada beberapa stasiun transit yang penting diingat yaitu Manggarai , Tanah Abang, Duri, Kampung Bandan, Citayam, Jatinegara, dan Jakarta Kota
Jadi kalau dari Cikarang mau ke Bogor maka cukup transit di Manggari dan kemudian naik KRL ke arah Bogor. Kalau dari Tangerang mau ke Cikarang maka rutenya bisa transit di Duri kemudian naik KRL ke arah Jatinegara. Transit di Jatinegara lalu naik KRL ke arah Cikarang. Atau bisa juga transit di Duri, lalu naik KRL ke arah Depok/Bogor/Nambo transit di Manggarai dan naik KRL ke arah Cikarang.
Oke, kamu telah sampai di stasiun tujuan. Seperti yang telah ditulis diawal keluar peron stasiun dengan cara Tap Out di pintu elektronik. Jika bingung atau ada masalah jangan malu untuk tanya petugas yang selalu standby disana. Lalu silahkan antre menukarkan tiket / THB kamu ke loket manual atau vending machine, uang 10 ribu per tiket dari pembayaran THB kamu akan kembali. Untuk yang pakai KMT silahkan melanjutkan perjalanan tapi jangan lupa cek saldo ya.
Sekian dulu jalan jalan kita menggunakan KRL.
Hadirnya KRL Di Cikarang
Sabtu, 07 November 2015
Aku Membenci Suamiku
KISAH di bawah ini beredar di berbagai forum, fanpage facebook, dan blog. Saya salah satunya yang 'mengesharenya' dalam blog ini. Entah siapa yang menuliskannya, entah fiksi atau non fiksi, namun satu hal yang pasti, kita bisa memetik pelajaran sangat banyak darinya. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki:
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya .
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.
Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.
Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.
Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.
Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar
airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.
Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.
Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah
karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.
Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.
Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya , tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny a atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Minggu, 18 Oktober 2015
Blog Apa Ini?
Sebagian orang atau banyak orang, ketika sengaja atau tanpa sengaja masuk ke blog ini, mungkin akan mengerutkan dahinya.
Blog apa ini? Isinya gak jelas gak fokus gak bermutu de-el-el.
Ya seperti judulnya 'aku dan duniaku', blog ini berisi tentang aku dan semua yang ada disekitarku. Yang mungkin saja terasa, terlihat, ataupun terdengar oleh inderaku.
So, gak usah bingung berfikir ini blog tentang apa. Jika ingin baca silahkan. Tidak mau baca, harus baca hehehe.
Selasa, 12 Mei 2015
JIKA TUA NANTI KITA TLAH HIDUP MASING-MASING, INGATLAH HARI INI
Sabtu, 09 Mei 2015
Setelah Lama Menghilang....................
Minggu, 06 Juli 2014
CAST OF MAHABHARATA
Berikut Para Pemain Di Mahabaharata Versi Star Plus
- Saurabh Raj Jain as Lord Krishna/Vishnu
- Shaheer Sheikh as Arjuna
- Pooja Sharma as Draupadi
- Aham Sharma as Karna
- Arav Chowdhary as Bhishma
- Praneet Bhatt as Shakuni
- Rohit Bharadwaj as Yudhisthira
- Saurav Gurjar as Bhima
- Arpit Ranka as Duryodhana
- Vin Rana as Nakula
- Lavanya Bhardwaj as Sahadeva
- Nissar Khan as Dronacharya
- Pallavi Subhash as Goddess Rukmini
- Atul Mishra as Lord Ved Vyas
- Hemant Choudhary as Kripacharya
- Ratan Rajput as Amba
- Ketki Kadam as Radha
- Sayantani Ghosh as Satyavati
- Nirbhay Wadhwa as Dushasana
- Vibha Anand as Goddess Subhadra/Yogmaya
- Paras Arora as Abhimanyu
- Shikha Singh as Shikhandini
- Anoop Singh Thakur as King Dhritarashtra
- Riya Deepsi as Queen Gandhari
- Shafaq Naaz as Kunti
- Naveen Jingar as Vidura
- Preeti Puri Choudhary as Devaki
- Garima Jain as Dushala
- Sabar Kashyap as Yuyutsu
- Sudesh Berry as King Drupada
- Karan Suchak as Dhrishtadyumna
- Nazea Hasan Sayed as Vrishali
- Ankit Mohan as Ashwatthama
- Sandeep Arora as Vikarna
- Chandani Sharma as Kripi
- Vivana Singh as Goddess Ganga
- Sameer Dharmadhikari as Emperor Shantanu
- Aryamann Seth as Vichitravirya
- Aparna Dixit as Ambika
- Mansi Sharma as Ambalika
- Arun Rana as Pandu
- Nidhi Tiwari as Sukhada
- Suhani Dhanki as Madri
- Ajay Mishra as Sanjaya
- Ali Hassan as Takshak/Jayadratha
- Tinu Verma as King Jarasandha
- Tarun Khanna as Balarama
- Vaishnavi Dhanraj as Demoness Hidimbaa
- Ketan Karande as Ghatothkach
- Joy Mathur as Shishupala
- Puneet Issar as Lord Parshurama
- Mohit Raina as Lord Shiva
- Nikhil Arya as Lord Indra
- Kunal Bhatia as Lord Agni
- Gurpreet Singh as Prince Rukmi
- Jayantika Sengupta as Arshi
- Rio Kapadia as King Subala
- Shweta Gautam as Queen Sudarma
- Raj Premi as Demon Kalayavan
- Siddhant Gautam as Ekalavya
- Vikram Soni as Krishna (Teenage)
- Vidyut Xavier as Karna (Teenage)
- Aayush Shah as Ashwathama (Teenage)
- Rohit Shetty as young Yudhisthira
- Miraj Joshi as young Bhima
- Alam Khan as young Duryodhana
- Soumya Singh as young Arjuna
- Raj Shah as young Dushasana
- Devesh Ahuja as young Nakula
- Rudraksh Jaiswal as young Sahadeva
- Ashnoor Kaur as young Dushala
- Gananay Shukla as young Karna
- Yagya Saxena as young Ashwathama
- Gurbani Thappar as young Malini
arjuna |
khrisna |
kunthi |
pandu & madri |
pandawa kecil |
dhritarastra |
bhisma |
vidhura |
yudhistira |
bhima |
drupadi |
pandawa |
gandari |
satyavati |
karna |